Meninggalkan debat

Ibnu Abbas berkata, “Janganlah kamu mendebat orang bodoh lalu dia akan menyakitimu dan jangan pula mendebat orang yang penyantun lalu dia meninggalkanmu”.

Nabi s.a.w. bersabda “Siapa yang meninggalkan debat sedangkan dia salah maka dibangun untuknya rumah di bahagian syurga, dan siapa meninggalkan debat sedangkan dia benar maka dibangun untuknya rumah di bahagian atas syurga” Diriwayatkan oleh Tirmizi dan dihasankannya.

Demikianlah orang yang berada di pihak salah diwajibkan meninggalkan debat, sedangkan Nabi s.a.w. menjadikan pahala sunnah (yakni sunnah bagi orang yang berada di pihak yang benar untuk meninggalkan debat) lebih besar, kerana diam sebagai pihak yang benar lebih berat ketimbang diam sebagai diam sebagai pihak yang batil. Pahala diberikan berdasarkan kesulitannya.

Faktor penyebab yang paling mudah menyulut api kedengkian antara saudara adalah perdebatan dan persaingan, kerana ia mengakibatkan putusnya hubungan. Putusnya hubungan dimulai dari pendapat kemudian ucapan dan akhirnya fizikal. Nabi s.a.w. bersabda:

“Janganlah kalian saling makar, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling memutuskan hubungan dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Orang muslim adalah saudara sesama muslim, tidak menzaliminya, tidak mengahalanginya, dan tidak menghinakannya. Cukuplah seseorang dianggap telah berbuat kejahatan jika menghina saudaranya sesama muslim” Diriwayatkan oleh Muslim

Pelecehan yang paling berat adalah perbantahan. Orang yang membantah ucapan orang lain bererti telah menganggapnya bodoh atau lain sehingga tidak dapat memahami sesuatu sebagaimana semestinya.

 

Komen Naqib : Harap maaf pengunaan sebahagian pengunaan bahasa Indonesia kerana artikel ini saya ambil dari terjemahan Indonesia, Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa), intisari kitab Ihya’ Ulumuddin yang telah ditashihkan oleh Said Hawa.

  • Teruskan perbicangan ilmiah, tetapi jauhilah perdebatan emotional yang keihlasan kerana Allah sangat2 diragui, apatah lagi jika ia sudah cenderung menjauhkan silaturahim.
  • Amalkan merenung kembali apa yang kita perkatakan dan melihat apa yang kita tulis, adakah ia diredhai Allah atau ditulis/ dikatakan dengan mengikut nafsu?
  • Biasakan diri kita jijik dengan kata-kata kesat seorang mukmin kepada seorang mukmin yang lain.
  • Di samping itu terimalah teguran dengan bijaksana dan jika ia tidak betul, berterima kasihlah kepada yang memberi nasihat walaupun ia tidak tepat.
  • Utamakan silaturahim dan menjaga hati mukmin yang lain dari mempertahankan fakta yang mungkin tak relevan mana pun.
  • Jika kita cepat melenting atau ego mudah terusik, didiklah hati kita.

Serulah kepada Allah dengan hikmah dan bijaksana. Semoga kita (termasuk saya sendiri) dapat terus memperbaiki hati agar amal yang lahir dari kita cemerlang dan diterima Allah. Terima kasih kepada yang menegur saya secara langsung dan tidak.

Kadang2 ada yang terasa dengan apa yang saya tulis, harap maaf jika begitu. Mungkin inspirasi untuk posting di sini timbul atas peristiwa2 tertentu, tapi ia tetap ditujukan kepada umum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s